Pagi ini tancap gas motor langsung menuju POLTABES (kalo nggak keliru) Kota Yogyakarta. Berlagak seperti reserse (maklum dulu waktu SMA mau bikin SIM malah dikira reserse) melangkah masuk ke Kantor Poltabes. Clingak-clinguk seperti orang kebingungan mencari tempat pengurusan SIM, maklum saya ke sana cuma 5 tahun sekali kayaknya (dan ini baru yang kedua) apalagi sekarang bentuk bangunan bagian dalamnya telah berubah (kena gempa mungkin?).
Setelah menemukan loket pengambilan formulir, didepannya ada tulisan loket buka mulai jam 08.00 am, dalam hati saya senang karena saya berangkat pagi alias nanti antrinya tidak lama. Sampai hampir jam 09.00 am loket belum juga buka. Bingung mau berbuat apa, akhirnya saya putuskan untuk membaca papan alur administrasi perpanjangan SIM yang ketutupan orang antri (naruhnya terlalu strategis). Setelah membaca SOP saya langsung bergegas ke tempat fotokopi dan cek kesehatan. Cek kesehatan (Rp 20.000,- uang pas aja) kali ini lebih cepat dari pada waktu saya dulu bikin SIM baru, dan lucunya yang nulis nota tanda cek kesehatan kalo nggak salah 5 tahun yang lalu adalah seorang ibu dibelakang loket formulir yang saya “titipi” untuk buat SIM C baru.
Setelah kopi ktp sim lama, dan tanda cek kesehatan lengkap, saya kembali menuju ke loket 1. Eh ternyata loketnya sudah buka. Setelah antri 5-6 orang dan bayar Rp 60.000,- (Rp 75.000,- untuk sim baru) saya dapat formulir perpanjangan SIM. Formulir saya isi selengkap mungkin, beberapa bagian yang “nggak jelas “saya lewati, maklum tidak dikasih petunjuk tata cara pengisian formulir yang tepat.
Setelah selesai mengisi formulir saya bergegas ke loket III, “numpuk” map berisi formulir perpanjangan kemudian menunggu dipanggil untuk foto. Nah dibagian ini ada yang rancu. Yaitu yang memasukkan formulir tidak diberi nomer urut (seperti di bank).
Setelah menunggu hampir 1 jam akhirnya saya dipanggil dan ternyata saya mendahului bapak yang tadi “numpuk” lebih dulu, ya maklumlah tidak ada nomer antrinya. Saya masuk ke ruangan yang ada tandanya “hanya petugas yang boleh masuk”. Menunggu sebentar, lalu tanda tangan (arean tanda tangan tidak sekecil dulu) dan duduk agak lama untuk difoto, maklum karena ukuran badan saya yang lebih besar dari ukuran normal orang Yogyakarta petugasnya harus berkali-kali menseting kamer digitalnya sambil bilang “wah mas awakmu kegedhen ra cukup mlebu monitor.” \
Dan setelah sesi foto yang sedikit menggelikan tersebut kartu SIM saya keluar dari printer laser untuk id card yang pake ribbon CMYK (sempat “bundet” lagi roll-nya).
What a nice process, kwkwkwk

July 9, 2009 at 8:43 am
Anda benar-benar orang “bebas” bang ….
http://tokoribbon.wordpress.com